Home Cara Budidaya Gunakan Benih Jagung Hibrida Karya Anak Bangsa, Edy Susanto Hemat Pupuk Hingga...

Gunakan Benih Jagung Hibrida Karya Anak Bangsa, Edy Susanto Hemat Pupuk Hingga 50%

64
0
Jagung varitas NASA 29 yang ditanam di Desa Pesawahan Kecamatan Pegandon.

Agronesia.net (KENDAL) – Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Provinsi Jawa Tengah lakukan uji tanam Varitas Unggul Baru (VUB) jagung hibrida varitas Nasa 29, Bima Uri 19, Bima Uri 20 dan JH 27.

Pelaksaan Uji tanam atau kaji terap VUB di Kabupaten Kendal untuk tahun 2018 dilaksanakan pada bulan Juni 2018 dan panen pada awal Bulan September 2018, bekerja sama dengan Kelompok tani Pandansari Desa Pesawahan Kecamatan Pegandon di lahan seluas 7,2 hektar dan Kelompok tani Desa Poncorejo Kecamatan Gemuh di lahan seluas 1 hektar.

Untuk mengetahui secara pasti kondisi riil dari uji tanam VUB jagung varitas Nasa 29, Bima Uri 19, Bima Uri 20 dan JH 27 di Desa Pesawahan, pada Senin (10/09/2018), Agronesia.net berhasil menemui Edy Susanto selaku Ketua Kelompok Tani Pandansari Desa Pesawahan.
Edy Susanto mengatakan bahwa uji tanam VUB jagung varitas NASA 29, BIMA URI 19, BIMA URI 20 dan JH 27, di Desa Pesawahan terkendala oleh beberapa hal.

Kendala tersebut diantara adalah persiapan lahan yang tidak sesuai untuk penanaman jagung dan waktu tanam yang tidak tepat (seharusnya tanam pada bulan Pebruari-Maret) sehingga tanaman kekurangan air pada saat pengisian buah.
Sebagaimana disampaikan oleh BPTP bahwa VUB jagung hibrida varitas NASA 29, BIMA URI 19, BIMA URI 20 dan JH 27, memiliki keunggulan tahan terhadap kondisi kurang air, memang terbukti di lapangan.Tanaman jagung tetap hidup dan berbuah walaupun panennya tidak optimal.

” Walaupun panen jagung dari uji tanam ini tidak optimal, akan tetapi hasil panennya seimbang dengan tanaman jagung yang menggunakan benih yang sudah terkenal di kalangan petani “, kata Edy.

Asoka, ketua poktan Desa Poncorejo Kec. Gemuh

Lebih jauh Edy menyampaikan bahwa ada nilai plus lainnya yaitu adanya pengurangan penggunaan pupuk kimia hingga 50% dari dosis yang biasa digunakan sebanyak 1.200 kg/ Ha atau sebanyak 600 kg. Berdasarkan pengalamannya, jika penggunaan pupuk kimia yang hanya 600 kg tersebut diaplikasikan pada tanaman jagung varitas lain, dia sangat yakin, produksinya pasti akan turun sangat drastis.

Di sisi yang lain, pengurangan penggunaan pupuk dan harga benih yang hanya Rp. 35.000/kg (dipasaran harga benih Rp. 75.000/kg, per hektar memerlukan benih sebanyak 20 kg), berdampak sangat nyata dalam memangkas biaya produksi.
” Urea 90.000 x 6 sak = 540.000, Phonska 115.000 x 6 sak = 690.000 dan selisih harga bibit 40.000 x 20 kg= 800.000, total 2.030.000 adalah satu nilai rupiah yang cukup besar”, tegas Edy.
Dari hasil ubinan yang dilakukan pada Selasa (04/09/2018), varitas Nasa 29 menunjukkan hasil tertinggi yaitu 9,6 ton/ha pipil panen, Bima URI 19 8,3 ton/ha pipil panen dan Bima URI 20 8,1 ton/ha pipil panen.
Jika pipil kering bisa mencapai 6 ton/ha dengan harga Rp. 4.000/ kg maka hasil penjualannya Rp. 24.000.000, sementara biaya produksinya Rp. 14.000.000, maka ada selisih yang cukup besar.
Diakhir pembicaraan, Edy mengharapkan, tahun 2019 bisa dilakukan lagi uji tanam di Poktan Pandansari tapi waktunya harus tepat yaitu pada Bulan Pebruari-Maret, agar hasil panennya bisa optimal.

Sementara itu, uji tanam di Desa Poncorejo Kecamatan Gemuh, hasil ubinan yang dilakukan pada Jum’at (07/09/2018), Varitas Bima 19 menghasilkan 7,06 ton/ha pipil panen dan Bima 20 menghasilkan 5,439 ton/ha pipil panen.
Asoka, ketua Kelompok Tani Desa Poncorejo, yang lahannya seluas digunakan untuk kegiatan uji terap jagung Bima 19 dan 20, menyampaikan bahwa pupuk kimia yang digunakan sebanyak 300 kg terdiri dari yaitu Urea, SP-36 dan Phonska, masing-masing 100 kg tanpa kombinasi dengan pupuk organik padat maupun cair.
” Dari hasil ubinan yang cukup tinggi saya sudah puas, mengingat waktu tanamnya yang tidak tepat sehingga saat pengisian buah kekurangan air “, kata Asoka.
Pada kesempatan uji petik di Desa Pesawahan, Selasa (04/09/2018), Ir. Diah Aning Budiarti, M.Si, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Kendal, menghimbau pada para petani agar menerapkan rekomendasi pemupukan yang telah dianjurkan oleh BPTP Jawa Tengah. Hal ini mengingat kebiasaan para petani setempat yang sering berlebihan dalam penggunaan pupuk kimia.

” Berkurangnya lahan pertanian di Kabupaten Kendal sangat berdampak pada produksi bahan pangan termasuk jagung sehingga harus diimbangi dengan peningkatan produksi “, tegas Diah Aning.
Kegiatan uji tanam adalah sebagai uji paket komponen teknologi yang menjadi wahana pembelajaran bagi petani, penyuluh dan petugas lapang.

(AP/Red.)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here