Home Agro Bisnis Paras Cantik Berbisnis Limbah Plastik

Paras Cantik Berbisnis Limbah Plastik

4
0

Perempuan 29 tahun itu bekerja sama dengan distributor di Singapura dan Australia untuk memasarkan tas buatannya. Saat ini ia menjual 120 tas per bulan beromzet Rp20 juta—Rp40 juta. Permintaan yang melonjak mendorong Deasy berupaya menggenjot penjualan hingga 200 tas per bulan dengan merekrut tenaga khusus penjualan. Produknya juga dipajang di Australia. Ia memproduksi tas kreskros di rumah 2 lantai di Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Di tangan Deasy Esterina, S.T. lembaran plastik hitam atau tas kresek bekas tetap berfaedah. Ia mengolahnya menjadi pintalan sebagai bahan baku tas eksklusif bermerek Kreskros. Sepintas mirip merek mancanegara, nyatanya kreskros akronim dari kresek kroset. Produk itu memadukan kresek dan bahan-bahan lain menjadi tas yang disatukan dengan teknik kroset (crochet atau rajut). Menurut Deasy kini produk kreskros terpajang di berbagai etalase produk kreatif di Jakarta, Yogyakarta, dan Denpasar.

Banyak penghargaan

Deasy banyak bergaul dengan komunitas nirlimbah alias zero waste, aktivis pengurangan plastik, maupun kelompok yang mengampanyekan pengolahan limbah domestik. “Padahal niat awal saya menggunakan plastik karena menghasilkan produk yang unik,” kata Deasy. Aktivitas itu membuatnya diganjar berbagai penghargaan. Pada 2018, ia menempati peringkat 3 artisan muda penerima penghargaan dari Association of Exporters and Producers of Indonesian Handicraft.

Ia pernah merasa terpuruk sampai titik nadir. Saat itu hampir 3 bulan penjualan nihil sementara ia harus terus berbelanja dan membayar upah pekerja. Padahal, uang tabungan untuk modal nyaris ludes. Sudah begitu, salah satu pekerja yang ia andalkan tiba-tiba keluar. “Dua hari saya tidak keluar kamar,” katanya mengenang. Semangatnya kembali ketika mendapat kabar bahwa ia mendapat penghargaan dari sebuah lembaga.

Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (Leprid) mencatat Deasy sebagai pemegang rekor Perempuan Pengusaha Daur Ulang Limbah Plastik Profesional Termuda pada September 2019. Ia juga kerap berbicara di berbagai forum kewirausahaan serta seminar di lembaga-lembaga umum maupun kampus. Meski demikian Deasy mengatakan, kreskros belum lama mencapai impas. Selama 2,5 tahun, kreskros menyedot tabungannya lantaran hasil penjualan tidak cukup menutup gaji pegawai, tagihan listrik, atau belanja lem, dan benang.

Rumah produksi kreskros menyerap 6 pegawai.

Perjumpaan dengan orang-orang dalam acara pemberian penghargaaan itu menyuntikkan semangat baru yang kian berkobar hingga sekarang. Selain meningkatkan produksi, ia berencana membuka ruang pamer. Kalau sekarang kreskros dipajang di galeri orang lain, nantinya produk orang lain ganti dipajang di etalase milik kreskros.

Berniat wirausaha

Produk Kreskros dipasarkan sampai mancanegara.

Tas-tas unik itu menarik perhatian pengunjung, bahkan selewat acara itu beberapa orang menghubungi dan menyatakan ingin membeli lagi. 2016 bermodal tabungan, Deasy mantap mendirikan kreskros. Ia memanfaatkan rumah milik orang tuanya menjadi rumah produksi yang digunakan sampai sekarang. Enam tenaga kerja dari lingkungan sekitar memastikan kelancaran produksi. Kresek sebagai bahan baku berasal dari tetangga yang mengumpulkan dari beberapa industri di sekitar Ambarawa dan Semarang.

Deasy Esterina membuat tas rajut itu selepas menamatkan kuliah. Pada 2012 ia mendapat tawaran mengikuti pameran Do It Yourself (DIY) Craft di Surabaya, Jawa Timur. Ia membuat 3 lusin tas rajut berbasis kresek dan memajangnya dalam pameran itu. Ia memilih kresek lantaran, “Setelah diberi sentuhan, bentuknya unik,” kata alumnus Program Studi Arsitektur Interior Universitas Ciputra, Surabaya, itu.

Ia juga bekerjasama dengan salah satu penyelenggara kelompok belajar (kejar) paket di Ambarawa. Peserta kelompok belajar itu menyetor plastik kepada penyelenggara sebagai ganti biaya pendidikan. Deasy lantas membeli plastik itu. Saat ini ia belum memiliki etalase sendiri. Ia mengandalkan etalase daring (online) dan penjualan di gerai-gerai di berbagai kota dengan sistem konsinyasi atau titip jual. (Argohartono Arie Raharjo)

Sumber berita : Trubus Online

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here